Monday 4th December 2023
    [otw_is sidebar=otw-sidebar-1]

    Guru Wajib Tahu: Pentingnya Pemanfaatan Artifisial Inteligensi dalam Pembelajaran

     

    Halio sahabat belajar sekalian, bertemu kembali dalam sebuah inovasi pembelajaran yang akhir-akhir ini menjadi trending topik dalam pembelajaran modern. Kali ini saya mencoba untuk melihat lebih dalam tentang pemanfaataan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran abad 21.

    Salah satu pendekatan pembelajaran abad 21 adalah Science, Technology, Engineering, Art, And Mathematic (STEAM). Sebuah model pendekatan yang mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan alam dengan bantuan teknologi sebagai sarana belajar mengajar, teknik-teknik memahami pengetahuan dengan memadukan antara seni dan matematika. Kolaborasi yang sangat sesuai dengan perkembangan dunia saat ini.

    Saya mencoba menarik benang merah dari kata teknologi. Istilah teknologi bukanlah hal yang baru. Teknologi sudah menjadi kebutuhan dalam era Industri 4.0 dan Era Society 5.0. Perkembangan teknologi bergerak maju dan datang di hadapan kita, khususnya di bidang pendidikan. Suka atau tidak suka, tau atau belum tahu, teknologi sudah hadir menggantikan manusia dalam berbagai pekerjaan. Bahkan melalui teknologi, manusia dapat diringankan dalam pekerjaan yang berat sekalipun.

    Sebuah kecerdasan buatan yang diciptakan oleh manusia melalui mesin-mesin komputer atau robot yang bekerja layaknya manusia. Kecerdasan buatan manusia lebih dikenal dengan istilah Artificial Intelligence (AI). Kecerdasan buatan telah merevolusi berbagai bidang kehidupan saat ini. Salah satunya adalah bidang pendidikan dengan berbagai fitur teknologi pendidikan.

    Sebagai guru dengan tugas mengajar di kelas yang melibatkan banyak siswa dan banyak karakter sudah saatnya harus merevolusi cara mengajar. Mengapa harus revolusi? Alasannya sederhana, dunia teknologi telah bergerak ada di dalam kehidupan kita. Hampir semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan teknologi. Hanya saja masih ada yang merasa nyaman (confort zone) dengan kerjaan saat ini.

    Memang disadari bahwa zaman kita berbeda. Ada generasi X, Y dan Z. Generasi X (lahir sebelum tahun 1980) melahirkan generasi Y (lahir tahun 1980 – 1995) dengan model kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Zaman telah berubah menuju kebebasan di segala bidang menghadirkan generasi Z (lahir tahun 1996 – 2010) dengan kurikulum merdeka. Segala aktivitas belajar dan mengajar harus bebas dari berbagai bentuk tekanan. Siswa bebas belajar kapan dan di mana saja (any time and any where) Guru tidak lagi sebagai pusat belajar (Teacher Centered).

    Kebebasan belajar dan mengajar menuntut semua stakeholder pendidikan untuk terus berinovasi agar tidak ketinggalan zaman. Pola pembelajaran tidak lagi relevan jika guru pembelajar masih menerapkan sistem Catat Buku Sampai Abis (CBSA), Berceramah tanpa ruang diskusi, guru sibuk mengisi jam pelajaran untuk memenuhi target 24 jam seminggu, guru yang baik tahu segala, padahal siswa sudah bisa belajar sendiri dari media online, sekolah melarang siswa membawa HP dengan berbagai alasan nanti siswa tidak belajar hanya mengakses video dan gambar yang tidak senonoh. Semua pikiran ini tidak benar adanya, sebab proses yang baik tidak pernah mengkhianati hasil. Ayo kita kawal bersama, jangan kendor semangat mamanusiakan manusia.

    Semua yang dilakukan guru sudah sesuai dengan tugas pokok guru yaitu mengajar, mendidik, melatih dan membimbing. Namun saja proses terus berjalan, tanpa hasil (output) yang terukur dan teruji. Kelemahan terbesar adalah sistem manajement pendidikan yang belum berjalan dengan baik. Ada ruang kosong di akhir proses yang belum dilihat secara tepat. Ruang itu adalah evaluasi dan tindaklanjut.

    Ruang kesamaan konsep perlu dipahami bersama antara kepala sekolah dan guru. Namun terkadang, kebijakan kepala sekolah salah dimengerti oleh guru (bawahan) yang berdampak pada hasil yang tidak terukur dan teruji. Kepala sekolah diangkat oleh kekuasaan organisasi, tentunya dalam melaksanakan tugas harus sesuai aturan yang berlaku agar tujuan organisasi tercapai. Bukan tanpa alasan, kebijakan kepala sekolah di luar aturan organisasi bisa melemahkan hasil akhir yang dicapai. Kepala sekolah sebagai eksekutor atas program kerja yang sudah divisi dan misikan di sekolah.

    Salah satu fungsi manajemen menurut ahli Pendidikan, S.P, dalam buku Manajemen Evaluasi Pendidikan edisi kedua, karangan Prof. Dr. Muhammad Syaifudin, S.Ag.,M.Ag. & Dr. Sawaluddin, M.Pd.I, tahun 2022, setidaknya fungsi manajemen meliputi: Planning, Organizing, Motivating, Controling dan Evaluating. Hal yang paling urgent dalam manajemen pendidikan adalah evaluasi sebagai langkah akhir untuk menilai seberapa besar keberhasilan yang sudah diraih dan bagaimana proses selanjutnya. Paling tidak ada rencana tindaklanjut dari temuan kegagalan dan keberhasilan program kerja.  

    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai salah satu rujukan pembelajaran di dalam kelas yang dibuat oleh guru sudah layak dan sepantasnya berjalan sebagaimana mestinya. Kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa dengan tujuan agar siswa bisa memahami ilmu pengetahuan sesuai tujuan yang tercantum dalam RPP. Jika dilihat kegiatan secara keseluruhan bagian awal sampai akhir, peranan guru sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    Guru punya cita-cita yaitu berusaha agar siswa bisa mengerti, memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Model kemasan dalam bentuk soal ulangan dan soal ujian sekolah. Namun, cita-cita yang sangat mulia terkadang harus kandas di dalam kelas, karena dunia mereka (siswa) tidak sama dengan dunia kita (guru).

    Itulah sebabnya konsep Pembelajaran Quantum (Quantum Teaching) harus diterapkan dalam setiap pembelajaran di kelas. Quantum sebagai paket-paket energi kecerdasan yang ada perlu dibangkitkan dalam dunia pembelajaran. Quantum Teaching memberikan ruang kepada guru untuk bertindak “bawahlah dunia guru ke dalam dunia siswa dan hantarlah siswa ke dalam dunia guru”.

    Konsep Quantum Teaching telah berkembang pesat di negara-negara barat sejak lama, namun kita di pelosok tanah air belum menerapkan proses ini dengan baik. Itulah sebabnya, kita (guru) habiskan energi mengajar untuk sebuah cita-cita yang tak kunjung terwujud. Dunia kita berbeda dengan dunia anak. Mereka (siswa) memiliki cita-cita sendiri. Jangan dipaksakan.

    Melihat realita perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai kecerdasan buatan yang berkembang pesat saat ini dengan fitur yang menarik perhatian generasi Z saat ini. Cara mereka mempelajari sesuatu sudah sangat mandiri (private). Mereka bisa lakukan secara autodidak (sendiri) tanpa harus dikomando. Semua sudah dalam genggaman teknologi pintar. Om Google selalu siap kapan dan di mana saja. Asalkan punya fasilitas dan biaya yang cukup, sudah bisa mengakses semua informasi.

    Sebagai guru Inspiratif abad 21, pemanfaatan AI sangatlah menarik perhatian siswa pembelajar. Mengapa demikian? Mereka (siswa) lahir bertepatan dengan masivnya perkembangan dunia teknologi, cukup geser ke atas atau ke bawah dengan ibu jari atau jari telunjuk, gambar atau tulisan bergeser dengan sendirinya. Tampilan juga cukup audio-visual membuat mereka berjam-jam menatap layar tanpa henti. Meskipun lapar dan haus, mereka terus berselancar dengan robot AI.

    Peranan guru menghadapi generasi Z sangatlah kompleks. Yang pertama sebagai guru inspiratif abad 21 harus banyak inovasi pembelajaran. Pemanfaatn AI sebagai solusi menjawab kebutuhan siswa pembelajar di dalam kelas. Paling tidak guru harus autodidak di Youtube dan google untuk mempelajari berbagai model pembelajaran berbasis AI.

    Yang kedua, guru harus memahami betul gaya belajar setiap siswa (V.A.K), apakah visual atau spasial? Auditori atau Kinestetik? Mengapa demikian? Ada kecenderung siswa memiliki pola belajar yang beragam. Jika tidak dipahami dengan baik oleh guru maka berdampak pada proses transfer knowledge tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sebelum memulai tahun pelajaran diperlukan sebuah penelusuran gaya belajar siswa agar guru tidak salah menggunakan media pembelajaran di kelas.

    Memang jaman kita (guru) berbeda dengan jaman now (Generasi Z). Tetapi tujuan pembelajaran harus tercapai dan terukur melalui evaluasi pembelajaran. Paling tidak proses pembelajaran guru sudah harus masuk ke dalam ruang-ruang pengetahuan siswa yang sudah terisi secara autodidak. Bukan tanpa alasan, bahwa setelah guru mengajar, belum lepas jam pelajaran masih saja ada siswa yang tidak mengerti apa yang baru saja diajarkan guru. Kesenjangan ini, perlu dievaluasi secara detail. Bisa saja cara mengajar kita yang tidak relevan lagi dengan era sekarang.

    Setidaknya guru sudah mampu menerapkan berbagai Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran. Misalkan memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti ebook, emodul, google meet, aplikasi PhET (Physics Education and Technology) interaktive simmulation, Quizzez, Curipod. Media teknologi pembelajaran sangat membantu guru dan siswa untuk belajar tanpa batas, kapan da di mana saja bisa berinteraksi. Ruang kebebasan belajar dibuka seluas-luasnya untuk perkembangan pengetahuan siswa..***

     

    [otw_is sidebar=otw-sidebar-6]

    Subscribe

    Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

    No Responses

    Tinggalkan Balasan