Tuesday 23rd April 2024
    [otw_is sidebar=otw-sidebar-1]

    Wonderfull Biboki Anleu_Part 1

    Biboki Anleu merupakan sebuah nama daerah di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di kabupaten Timor Tengah Utara. Kata Biboki Anleu terdiri dari beberapa kata yaitu Biboki dan Anleu. Kata Biboki terdiri dari dua kata yaitu “Bi” dan “boki’. Preposisi “Bi” yang artinya “Di”, sedangkan kata “Boki” artinya penyeimbang, penyangga. Kala itu  ada sebuah kerajaan Biboki yaitu kerajaan penyeimbang dan penyangga sebelum kedatangan bangsa Portugis pada abad XV dan bangsa Belanda pada abad ke XVII.

    Faktanya bahwa Biboki secara geografis terletak di tengah pulau Timor. Biboki secara teritorial budaya berada pada dua wilayah besar yaitu Belu-Tetun dan Kefamenanu hingga Kupang dawan. Secara etnis, Biboki merupakan kumpulan manusia dari Timur dan Barat di Pulau Timor. Dari arah matahari terbit (Timur), “Manse Saen” (bahasa dawan) atau “Loro sae” (bahasa tetun), sedangkan matahari terbenam “Manse Moufna” (bahasa dawan) atau “Loro Monu” (bahasa tetun). Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah bahasa campuran bahasa Indonesia, bahasa dawan dan bahasa tetun. Masyarakat Biboki sangat komunikatif dengan ketiga bahasa tersebut. Meskipun demikian, ada sebagai masyarakat yang tidak bisa berbahasa tetun, dawan maupun indonesia.Mereka hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa ibu sejak lahir.

    Kehidupan sosial-politik masyarakat Biboki sebagai pusat penyangga atau peyeimbang antara dua kerajaan besar yang pernah ada di Pulau Timor. Kedua kerajaan tersebut adalah Liurai dari Timur dan Sonbai dari Barat. Kerajaan penyangga, kerajaan tradisional Biboki adalah Tamkesi yang artinya “penuh dan sempurna”. Sebagai bukti sejarah berdirinya dua tugu lambang penghormatan kepada kedua kerajaan Timur dan Barat. Kerajaan Timur mengarah ke Liurai di Wehali-Waiwiku (Malaka) dan Kerajaan Barat ke Sonbai di Oenam, Kono-Oematan (Mollo-Miomaffo).

    Kehidupan budaya adat masyarakat Biboki dibesarkan oleh sepuluh paguyuban besar yaitu Tahaf_Nafanu, Taitoh_Bukifan, Tnesi_Aluman, T’eba_Tautpah, Harneno_Manlea. Mereka memiliki wilayah kekuasan tersendiri dalam kerajaan lokal Tamkesi. Dalam bahasa dawan disebut Klunin Bo’es, Baat Bo’es atau sepuluh suku besar yang saling bekerja sama untuk membangun dan menghidupi Kerajaan Biboki. Kesepuluh suku besar dalam bahasa dawan di sebut “Amafa Naek”. Seperti bapak-bapak bangsa dalam konteks agama ada bapak Abraham, Izak dan Yakub.  

    Kerajaan Biboki memiliki pemimpin tertinggi dalam bahasa adat disebut “Neno-Biboki, Funan-Biboki, Loro-Biboki. Secara harafiah matahari-biboki, bulan-biboki atau dalam bahasa dawan disebut “Usi Koko”, Raja Keramat. Kesakralan Raja dalam bahasa dawan “Usi Kok Leu” sebagai mikrokosmos Biboki yang dapat memberi berkat dan keberuntungan bagi masyarakat Biboki seperti meminta turunnya hujan, menjauhi malapetaka, dan menurunkan berkat bagi umatnya (Boy, 2021a).

    Simbol kekuatan adat dalam masyarakat kerajaan Biboki dikenal dengan istilah Bena Naek, Papa Naek. Ada empat paguyuban besar yang berada di bagian Timur diduduki oleh “Pai_Sanaunu” dan bagian Barat oleh “Bel-Sikone”. Pasangan paguyuban ini memiliki kekuatan dan pendukung utama raja tertinggi Loro Biboki. Dalam menjalankan pemerintahannya, Loro Biboki didampingi oleh laki-laki tua, raja bumi dalam bahasa dawan disebut “Monemnasi Pah Tuan”. (Anak laki-laki, 2021b)

    Konon, Biboki menjadi otonom atau Swapraja tersendiri dengan ibu kotanya adalah Manufui. Biboki simbol otonom masih tersirat dalam sistem pemerintahan Kabupaten Timor Tengah Utara. Tiga daerah otonom di Kabupaten Timor Tengah Utara yaitu Biboki, Insana dan Miomaffo yang sangat terkenal dengan sebutan Biinmaffo. Simbol pemersatu masyarakat Timor Tengah Utara yaitu patung tiga raja dengan tinggi 7 meter yang dibangun pada tahun 2007 tepatnya di km.9 jurusan kota Kefamenanu-Kupang.

    Simbol pemersatu Biinmaffo dalam patung tiga raja dengan motif pakaian daerah lengkap aksesorisnya. Patung yang mengarah ke Utara kota kefamenanu adalah simbol raja Biboki dengan posisi tangan menunjukkan arah perjuangan, patung yang mengarah ke Timur Kampus Universitas Timor (Unimor) adalah raja Insana sambil memegang tombak (senjata perang), dan patung yang mengarah ke Selatan Mutis-Eban adalah raja Miomaffo dengan busana adat dan kelewang di tangan (senjata tradisional).

    Biboki kini terbagi dalam enam kecamatan besar yaitu Biboki Utara ibukotanya Lurasik, Biboki Selatan ibu kotanya Manufui, Biboki Moen-leu (Saudara Keramat) ibu kotanya Mena-Kaubele, Biboki Feot-leu (Saudari keramat) ibu kotanya Manumean, Biboki Anleu (Putra Keramat ) ibu kotanya Ponu dan Biboki Tanpah (Penerobos Bumi) ibu kotanya Oenopu.

    Kisah Pengalaman mantan lurah, Kelurahan Ponu-Timor Tengah Utara, Bapak Siprianus Padapili, S.Sos

    Berikut Kisah wawancara bersama mantan Lurah Ponu-Biboki Anleu-TTU

    1. Sudah berapa lama bapak mengabdikan diri di Biboki Anleu? Dari tahun berapa sampai berapa?

    Jawab:

    Saya bertugas di Ponu Biboki Anleu sejak tahun 2006. Proses terus berjalan hingga akhirnya tahun 2011 saya dilantik oleh Bupati Timor Tenga Utara sebagai lurah di Kelurahan Ponu. Di masa sulit, saya selalu berproses dalam setiap kesempatan, sehingga proses peralihan status dari kelurahan menjadi desa dapat terwujud. Pertimbangan status kelurahan menjadi desa menjadi fokus perhatian pemerintah desa saat itu. Salah satunya adalah potensi lokal yang kaya akan sumber daya alam. Seperti: hutan, ternak, pertanian, perikanan dan tambang khususnya galian C. Usaha tidak pernah menderita slogan proses hasil tahun 2016 yang ditandai dengan proses pemilihan kepala desa.

    1. Selama menjadi Lurah, apa saja yang menjadi kendala (kesulitan) dalam menghadapi masyarakat Biboki Anleu?

    Jawab:

    Berbicara terkait kendala tentunya banyak persoalan yang dihadapi, diantaranya adalah:

    • Kurangnya personil (pegawai ASN) di kantor kelurahan Ponu. Bagaimna ketika itu, saya pernah dalam suatu fase, saya sebagai lurah mengkonsep surat, mengetik dan mendistribusikan ke para RT dan RW yang saat itu berjumlah 27 RT dan 9 RW. Saya lakukan sendiri dibantu oleh beberapa pegawai honor (namun nasib belum jelas).
    • Masyaarakat yang saat itu sifat apatisnya sangat tinggi.Hal yang merupakan kewajiban selalu diabaikan begitu saja. Contoh kecil membuat pagar agar tanaman bisa terhindar dari serangan hewan piaraan (kambing dan sapi). Sudah disampaikan secara berulang, bahkan saya turun lngsung untuk memeriksa pagarnya. Namun hasilnya nihil saja. Ini yang membuat masyarakat Ponu selalu gagal panen karena banyak tanaman yang rusak karena dimakan atau dirusak oleh ternak. Selain itu memang ada kendala yakni curah hujan di ponu yang sangat kecil sehingga masyarakat harus pintar membaca prediksi cuaca.
    • Masih tingginya persoalan penyerobotan tanah dan banyaknya masyarakat yang menjual lahan pertaniannya dengan harga yang murah dan masih banyak persoalan lain yakni tingginya angka anak putus sekolah dan masalah yang melanda masyarakat lainnya.
    1. Selama menjadi Lurah, Hal apa yang paling menyenangkan di Biboki Anleu?

    Jawab:

    Hal yang paling menyenangkan adalah masyarakatnya yang berkarakter keras, tetapi selalu siap menerima ajakan untuk mensukseskan program pemerintah yang digiatkan dalam kelurhana. Selain itu, alam ponu yang begitu indah dan penduduknya yang ramah. Orang yang bertugas di ponu akan dibuat betah dan tidak ada keinginan untuk pindah ke tempat lain.

    1. Bagaimana karakter orang Biboki Anleu dalam menghadapi masalah/kesulitan?

    Jawab:

    Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa karakter orang Biboki Anleu keras, tetapi selalu menyambut perubahan. Semua persoalan akan mudah diselesaikan dengan cara kearifan lokal ( local wisdom). ).Orang ponu, bisa saya analogikan sebagai PETARUNG. Kondisi geografis wilayah yang kering dan panas tidak membuat mereka patah arang atau membuat mereka lari dari kenyataan. Mereka selalu menghadapi dengan hati yang tabah. Selain itu mereka bisa mengatasi kekeringan dan kesulitan yang dihadapi. Maklum pantai laut ponu belum kering, masih bisa menjala ikan.

    1. Selama menjadi lurah, masalah apa yang paling sulit diselesaikan secara pemerintahan?

    Jawab:

    Hampir semua masalah bisa diselesaikan dengan baik, karena orang ponu Biboki Anleu punya filosofi adat yang kuat. Tapi kalau mau jujur​​​​​​​​​​​​​masalah yang tidak pernah habisnya dari tahun ke tahun adalah masalah ternak. Bicara ternak kita seperti menghadapi dilematis.Ponu terkenal karena ternaknya yang montok dan gemuk. Kalau kita bicara pertanian, maka semua orang keberatan bahwa kendalanya cuman (hanya) air dan ternak. Itulah masalahnya. Kita tidak bisa mengesampingkan mana yang lebih penting antara pertanian dan peternakan. Keduanya saling mendukung perekonomian masyarakat ponu, yang kami lakukan adalah pengidentifikasian areal ternak dan areal pertanian. Ini yang sulit karena sifat apatis dari masyarakat ponu.Bagian kerja bakti membuat pagar ada pro dan kontra.

    1. Sebagai mantan Lurah, kearifan lokal apa yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Biboki Anleu?

    Jawab:

    Budaya gotong-royong masih terbina dengan baik. Ini adalah bukti nyata kehidupan bermasyarakat di desa Ponu Biboki Anleu yang harus kita pertahankan sebagai salah satu nilai luhur bangsa Indonesia.

    1. Selama menjadi Lurah, program apa yang paling unggul di masyarakat Biboki Anleu?

    Jawab:

    Bicara program unggulan tentunya kita kembali ke perilaku masyarakat yang tadi saya ulaskan di atas. Ponu terkenal dengan sawahnya yang luas. Berasnya enak, ternakn banyak dan ikannya banyak. Inilah program andalan yang harus terus digalakan. Pertanian, peternakan dan perikanan serta ada potensi garam dan mangan yang tidak kalah banyaknya juga menjadi daya dorong tersendiri dalam membangun perekonomian masyarakat Ponu Biboki Anleu.

    1. Perubahan apa yang paling menonjol di saat sekarang jika dibandingkan dengan masa lampau?

    Jawab:

    Banyak tentunya, transportasi sekrang sudah lebih baik dengan adanya pembangunan jalan dan jembatan, lampu dalam hal ini jaringan listrik yang sudah hampir menjangkau semua masyarakat, jaringan telekomunikasi yang sudah 4G dan masih banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat ponu Biboki Anleu.

    1. Apa harapan bapak Sipri yang harus dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat terhadap perkembangan di Biboki Anleu?

    Jawab:

    Kemajuan hanya bisa dilakukan dengan cara bersama-sama. Sambut program ubah dan ubah pola pikir, karena semua keberhasilan tidak diperoleh dengan santai-santai kan? Giat bekerja kalau bukan kita yang mengubah wilayah kita, siapa lagi dan kalau bukan sekrang mau kapan lagi?

    1. Pernyataan Penutup (kata-kata penutup sesi wawancara ini)

    Jawab:

    Ponu ibarat gadis cantik yang lugu, merayu setiap laki-laki yang melihatnya. Ponu punya banyak potensi yang membuat banyak orang berlomba-lomba untuk taklukan ponu, untuk itu jangnlah menjual tanah.

     

    Biodata Mantan Lurah Ponu (2011-2016)

    Nama : Siprianus Padapili, S.SOS

    TTL : Mulakoli, 20 Juni 1978

    Tugas sekarang : DI BADAN PENGELOLA REPUBLIK PERBATASAN INDONESIA, Wilayah Perbatasan RI-RDTL (Wini)

     

    [otw_is sidebar=otw-sidebar-6]

    Subscribe

    Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

    No Responses

    Tinggalkan Balasan